Perjalanan Dua Bocah Hutan - Part II

2 Nov 2010





*sambungan postingan sebelumnya....

Hari semakin siang, cahaya mentari mulai merajalela seakan membakar sekujur tubuhku. Suara hiruk pikuk oleh murid-murid SD Negeri 1 Mala-mala memadati suasana Desa Mala-mala. Rasa penat seakan tidak nampak, tertutupi oleh perasaan gembira kami karena bangga telah menyandang calon generasi-genarasi penerus bangsa.

“Eh guss…ikutan yukkk…kita mo kesungai mandi-mandi”.  Ajak temen-temenku.

Itulah salah satu rutinitas aku dah temen-temen selepas pulang dari sekolah. Mampir ke sungai mandi-mandi. Kebersamaan, keceriaan dan kebahagiaan sangat terasa di kala itu. Tak ada beban bagi kami para bocah-bocah gunung…*maklum masih polos banget…:D*. 

Setelah puas bermandi ria kami melanjutkan perjalanan pulang kerumah masing-masing. Karena seharian kami menghabiskan waktu pulang sekolah dengan mandi di sungai. Rasa laparpun akhirnya datang menggerogoti perut-perut kami. Cacing-cacing dalam perut pun mulai meronta-ronta minta diberi makan.

“Eh cari buah-buah yukkk yang bisa kita makan buat ganjel neh perut”. Kataku kepada temen-teman.
Kami pun mulai berpencar di antara hamparan kebun-kebun coklat dan kelapa. Yahh ini juga menjadi kebiasaan aku dan teman-teman sehabis pulang dari sekolah, menyebar ditengah-tengah hamparan kebun-kebun coklat dan kelapa. Untuk mencari makanan pengganjal perut sebelum sampai kerumah. Biasanya sasaran kita adalah buah kelapa muda yang jatuh dari pohonnya, trus buah jeruk dan cokelat. Tapi yang paling mudah tuh buah cokelat…soalnya dapetnya pake ngambil di pohonnya…padahal tuh pohon cokelat punya orang …ckckck

*bandel ya para bocah-bocah neh…nyolong cokelat orang…:D *maklum masih polos…:D

Nah ada lagi neh kejadian lucu aku bareng ma temen-temen. Sewaktu kami pulang dari sekolah, di tengah perjalanan pulang kami seperti biasanya perut-perut kami selalu di gorogoti oleh rasa lapar. Saat kami menjalankan misi pencarian buah-buah untuk mengisi kekosongan perut. Nah, kami melihat buah-buah mangga yang banyak berserakan dibawah pohonnya, kebetulan waktu itu adalam musim mangga. Jadi, dengan secepat kilat melebihi kecepatan Ferrari…( majasnya ironi banget ya…:D ). Kami berlomba bersama temen-teman untuk memunguti buah-buah mangga itu. Mungkin karena terlalu laper ato girang…kami nggak nyadar kalo mangga-mangga itu jatuh bukan di sebabkah oleh angin, tapi mangga-mangga itu jatuh karena emang lagi di panen sama pemiliknya. Kami baru nyadar setelah sang pemilik yang berada di atas pohon meneriaki kami. Sepontan aja kami membuang kembali mangga-mangga yang telah kami pungutin sambil lari pontang-panting...hihihihi… kasian deh nasib kami, apess…:D

***

Hari semakin sore, aku bersama sepupuku menyusuri jalan setapak. Sepi lengang tak ada satu manusia pun yang melewati jalan itu kecuali kami berdua. Hanya suara binatang-binatang hutan dan monyet-monyet hutan yang ramai terdengar. Membuat kami kadang merinding ketika melewat bukit-bukit terjal. Yah mau gimana lagi, hanya itulah jalan satu-satunya yang harus kami lewati jika ingin menempuh jarak yang lebih dekat untuk pulang kerumah. Hari ini memang aku dan sepupuku agak terlambat pulang, gara-gara terlalu banyak main setelah pulang sekolah.

“Dull…kamu laper nggak”. Kataku memecah kesunyian.
“Iya…aku laper banget”. Jawab si Dull singkat.

Aku mempercepat langkahku di ikuti oleh sepupuku. Namun 10 meter seselum melawati sungai, tiba-tiba langkah kami terhenti oleh kemunculan seekor kera besar yang sepertinya menghadang jalan kami. Astaghfirullah pekikku dalam hati, tiba-tiba tubuhku terasa gemetar. Rasa takut menyelimuti jiwaku, namun aku berusaha menguasai diriku sambil berusaha mengusir kera itu.

“Husss…husss…!”. Sambil kukibaskan tanganku memberi isyarat kepada kera itu agar menyingkir dari jalan.
Begitula juga si Dull berusaha mengusirnya dengan mengibaskan ranting-ranting yang ada ditangannya. Namun ternyata usaha kami gagal, si Kera itu sedikitpun tak bergeming dari tempatnya. Ia masih asyik menikmati coklat yang ada di tangannya sesekali menatap kami berdua.

“Gimana neh Dull…si Kera itu nggak mau menyingkir”. Kataku kepada Dull.
“Gak tau juga neh Guss…apa kita takut-takutin ya”. kata Dulla

Kemudian Dulla pun datang dengan potongan kayu besar ditangannya. Ia berusaha mendekat untuk mengusir Kera itu sambil memukul-mukulkan kayunya di pohon coklat dengan aksi yang menggretak. Namun apa yang terjadi, bukannya kera itu menyingkir. Tapi ia keliatan kesel dan marah kepada kami. Tiba-tiba ia melemparkan buah cokelat yang ada ditangannya dan berlari menuju ke arah kami berdua.

“lariiiiiiiiiii Duuuull…” teriakku dengan penuh rasa kaget.

Dengan langkah seribu aku dan sepupuku berlari sekencang-kencangnya yang entah itu kekuatan dari mana sehingga lari kami bisa begitu kencang dan tak mampu di kejar oleh kera itu. Hufftt…mungkin inilah yang disebut tenaga reflek. Seperti kata guru biologiku, bahwa tiap manusia memiliki sebuah kekuatan yang tersimpan dalam tubuhnya. Yang mana kekuatan itu akan berfungsi ketika kita dalam keadaan kaget atau ketakutan.

“kalian kenapa lari ketakutan Nak”. Tegur seorang Bapak tua yang melihat kami berlari ketakutan.

“Aaa…aa nu Pak..”. Jawabku dengan terbata-bata karena masih di selimuti rasa takut.

“Ka..kaa…ami di kejar Kera..pak “ Jawab Dulla dengan nafas terengah-engah.

“Emang kalian tinggal di mana…?”. Tanya Bapak tua itu kepada kami.

“Di gunung Jabal Nur Pak…”. Jawab kami serempak.

“Ya udah ikut Bapak aja…kebetulan Bapak juga tinggal di gunung”. Jawab Bapak tua itu sambil melangkah di ikuti oleh kami berdua.

Kadang aku masih merasa lucu kalo mengingat kejadian 15 tahun yang lalu. Tentunya saat itu hal yang sangat menegangkan bagiku. Siapa sih yang nggak kaget dan ketakutan di kejar Kera hutan ? jangan dulu…sekarang aja kalo kejadian itu masih berulang pasti melakukan hal yang sama seperti dulu yaitu berlari dengan langkah seribu, tapi sambil ketawa-ketiwi pastinya…ckckkc. Ya sudahlah…itu masa lalu yang gak bakal hilang dari memoriku.

Okelah kalo begitu. Kayaknya cerita ini kepanjangan yaa…hehehe, jadi istrahat disini aja. Sebenarnya masih banyak kisah2 gokilku yang gak kalah serunya dengan cerita di atas, cuman kalo mau ditulis semua kayaknya terlalu panjang deh…ntar bingung sendiri ini cerpen apa novel ckckc…dikata cerpen kepanjangan…di kata novel terlalu pendek…ya sudahlah..dicukupkan aja hehe. :D










3 comments:

Anonymous said...

gpp gus.. di sambung aja ceritanya.. jadi penasaran ne cerita berikutnya apa.. hehe.. :D

SangMusafir said...

hehehehehe...kapan2 aja Nin... :D

Anonymous said...

ahahahhaha, . . . kera nya bad mood liat muka ne agus, duh2, kasian kera nya . .

Post a Comment